Tags

Seni Budaya Lokal yang bernapaskan Islam di Indonesia sangat banyak. Di sini saya akan
membahas beberapa di antaranya, yaitu :

A. Seni Tari

Tari Zapin
Di kepulauan Riau kita dapat menyaksikan Tari Zapin yang mengiringi irama kasidah dan
gambus. Tari Zapin diperagakan dengan gerak tubuh yang indah dan lincah dengan diiringi irama padang pasir dan atau musik hadrah. Tari Zapin biasanya dipentaskan pada upacara-upacara tertentu seperti upacara khitanan, pernikahan dan hari raya Islam. Para penari yang semuanya laki-laki menari berpasangan dengan mengenakan sarung, kemeja, dan kopiah hitam. Bisa juga memakai teluk belanga dengan sesamping songket (sarung tenun songket benang emas) dan ikat kepala lacak atau destar.

Tari Seudati
Tari Seudati berasal dari Aceh yang diambil dari upacara sufi. Tari ini diperankan oleh
penyanyi laki-laki yang menari dan membuat bunyi tabuhan dengan alat musik tubuh mereka sendiri sewaktu mereka menepuk tangan, dada, sisi tubuh, dan mengertak-gertakkan jari.

Tari Menak
Tari Menak atau Beksa Menak berasal dari Daerah Istimewa Yogyakarta yang diciptakan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX, raja Yogyakarta pada 1941. Tari Menak mirip tari wayang orang, bedanya kalau tari wayang orang ceritanya diambil dari Mahabarata sedangkan tari golek diambil dari serat Menak. Tokoh-tokoh tari Menak di antaranya Jayengrana, Dewi Muninggar, Kelaswara, Sirtupelaili, Adaninggar, Maktal, Lamdahur, Nuserwan, dan Patih Bestak.

B. Seni Musik

Musik Gambus dan Rebana
Di daerah Jakarta dan sekitarnya, Banten, dan Cirebon kita sering mendengarkan irama gambus
dengan syair-syair Arab yang berisi pujian kepada Allah dan selawat Nabi. Ansambel gambus menggunakan kecapi petik, gambus, rebana kecil, dan marwas (marawis). Penyanyi melantunkan lagu yang diambil dari kasidah barzanji atau dari syair lain. Populer juga di sebut seni musik marawis.
Di Banyuwangi, terdapat kesenian kuntulan. Kuntulan merupakan perpaduan antara seni musik dan tari asli Banyuwangi sebagai pengembangan dari seni hadrah/seni padang pasir yang telah disesuaikan dengan seni tradisional gandrung Banyuwangi. Ansambel kuntulan sama dengan genderang militer Eropa pada kelompok sepuluh rebana.
Di Lombok, terdapat rebana bernada lima. Rampak rebana bernada lima ini merupakan sekumpulan rebana bernada lima yang telah diselaraskan. Rampak ini mendapatkan pengaruh arakan gamelan Bali, bebonangan.
Di Semarang, terdapat grup Nasida Ria, sebuah kelompok seni kasidah dengan semua anggotanya perempuan. Lagu-lagu yang dibawakan adalah pujian kepada Allah dan selawat Nabi, didendangkan dalam syair berbahasa Arab maupun bahasa Indonesia. Orang Betawi dan Orang Jawa Tengah bagian utara menanggap gambus dan seni hadrah untuk merayakan khitanan atau pernikahan.
Di Jawa terkenal seni rebana atau seni terbangan. Grup terbangan sering dipakai untuk mengiringi Tari Rodat, arak-arakan khitanan, dan pembacaan kasidah barzanji. Grup rebana terdiri atas empat pembawa terbang bundar dan bisa ditambahkan dengan satu jidur, bedug. Ada juga rebana Banten yang terdiri atas enam ketipung kecil dan satu terbang besar.

About these ads